Thursday, July 31, 2014

Malu dalam Kelimpahan

Tidak menampik segala pemikiran wanita lainnya, saya sendiri sempat menjadi ragu untuk menjadi lebih sukses dari ekspektasi saya. Kenapa? Banyak sekali anggapan bahkan pengalaman pribadi sendiri dimana wanita takut tidak menemukan pasangan hidup karena mengejar karir yang lebih cemerlang.

Betul, mungkin pemikiran orang-orang yang dikurung dalam pikiran 'orang jaman dulu' akan berpendapat sama. Atau pria yang 'takut kalah' oleh wanita yang mungkin kaitannya dengan harga diri mereka. Bukankah itu justru menjadi pemacu demi pengembangan diri yang lebih baik?

Itu pemikiran-pemikiran yang salah. Hanya akan menghambat pengembangan diri tanpa menghasilkan satu hal pun yang berharga. Dalam postingan 'wanita yang bekerja' jelas kalau seorang istri yang cakap juga adalah seseorang yang mampu menopang hidup keluarganya dari hasil keringatnya sendiri.

Tuhan telah menyediakan apa yang kita butuhkan, buat apa takut akan pasangan yang belum kunjung hadir? Dan mengambing-dombakan karir yang mungkin cemerlang di sebagian besar wanita sebagai kesalahan?

Tidak. Karir yang cemerlang untuk seorang wanita tidak datang dengan tiba-tiba tetapi buah dari kerja keras yang harus dihargai. Itu yang telah Tuhan berikan untuk mereka yang berusaha keras. Sebab ada dikatakan Tuhan mengangkat kita menjadi kepala dan bukan ekor. Oleh karena itu, di posisi kita seorang wanita dengan karir bagus, dan semakin diangkat. Percayalah itu amanat Tuhan yang perlu kita jaga, bukan kita persalahkan ataupun menolak untuk diangkat.

Tidak setiap wanita bisa memperoleh posisi seperti yang (mungkin) Tuhan ijinkan terjadi. Jadi, jangan pernah takut untuk berkarya sebab jika seorang pria tidak mengerti arti firman Tuhan yang satu ini, tentunya dia akan terus menjadi takut. Sebaliknya, apabila pria itu menerima wanita yang (mungkin) diijinkan lebih sukses darinya, artinya dia memang yang disediakan Tuhan bagi wanita tersebut.


Ulasan Cerita
---

Saya dipercaya oleh Tuhan mendapat posisi yang cukup bagus di perusahaan. Karena anggapan orang-orang sekitar, saya tidak pernah mau mengumbar posisi saya di luar kantor apalagi kalau bertemu dengan orang yamg baru saya kenal.

Bahkan tawaran yang mengangkat saya lebih tinggi selalu saya tolak karena takut dengan masalah pasangan. Berkali-kali. Sehingga beberapa kali sahabat saya yang pria (tidak hanya satu orang) terus mengingatkan bahkan memberikan ayat firman Tuhan untuk saya renungi.

Selama terus menolak, tidak ada sesuatu yang dapat saya peroleh juga. Pasangan yang saya harapkan pun tidak kunjung datang. Saya malah terus gagal. Sepertinya saya memang tidak boleh malu oleh karena berkat Tuhan ini.
Akhirnya, saya mengerti bahwa Tuhan selalu akan mengangkat kita dan bukan menjatuhkan kita. Jika saya terus menolak apa yang Tuhan telah sediakan bagi saya, bagaimana Tuhan bisa mempercayakan perkara yang lebih besar lagi pada saya?

Setelah merenungi, saya kemudian ingin memantapkan rencana di tahun depan dan tidak mau 'terkurung' oleh pendapat orang lain. Saya hanya akan bergumul dengan Tuhan dan menanti jawaban-Nya. Saya tidak akan menolak apa yang Tuhan angkat dan rencanakan bagi saya. Karena saya percaya Tuhan selalu merencanakan yang baik bagi saya.
(Hiden narsum)

Tuhan Yesus memberkati
---
Lily Zhang

Wednesday, July 30, 2014

Keterbatasan itu senjata

One of the best videos of inspirational true story: football's dream
http://youtu.be/0AU21M2Lu5o

Lihat, betapa susahnya klub sepak bola ini meraih impian. Mereka hanya bermodal mimpi, tekad, berusaha, dan Tuhan melihat pengorbanan mereka yang tidak sia-sia. Dengan semua keterbatasan yang mereka miliki, Tuhan membentuk karakter, kecerdasan, ide cemerlang, keyakinan, dan menempa tekad mereka untuk terus bertahan. Kesulitan yang pernah mereka lalui bukan pula menjatuhkan mereka namun mengangkat mereka. Bahkan hal tersebut menjadi senjata untuk melawan kompetitornya. Bagaimana hebat Tuhan rancangkan bagi mereka sehingga menjadi klub sepak bola yang dapat menginspirasi banyak orang.
Mereka melakukan bagian mereka dan Tuhan memudahkan jalan mereka untuk dapat berkompetisi dan menginspirasi.
Tuhan Yesus memberkati
---
Lily Zhang

Sunday, July 20, 2014

Doa yang didengar-Nya

Tuhan itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya (Amsal 15:29)
Beberapa waktu lalu, kepahitan perlahan menghitamkan hati ketika saya menaruh rasa kecewa kepada seseorang. Bahkan sahabat saya membenarkan apa yang tengah kurasakan, "iyah, aku melihat kamu mulai menumbuhkan benih kebencian."

Yah, benar. Apalagi itu menjadi kerugian membenci orang-orang yang seharusnya saya kasihi. Mengapa? Sebab mereka adalah orang-orang yang telah menghabiskan lebih dari separuh hidup saya.

Saya menjadi sama dengan orang-orang fasik yang masih memendam kepahitan kepada seseorang. Bagaimana menjadi orang benar yang doanya didengar oleh Tuhan kalau diri sendiri saja belum berlaku benar. Belum berusaha untuk menghilang dan menghapus kepahitan itu sendiri?

Saya mulai bertanya-tanya apakah Tuhan bisa melihat kesungguhan hati saya di setiap doa yang saya panjatkan dengan sungguh-sungguh.

Sepertinya hati yang pahit hanya akan menghitam dan memburamkan kejernihan hati. Bahkan jikalau pun saya berkeinginan mendoakan orang yang membuat hati saya pahit pun, rasanya hanya akan menjadi sia-sia. Bagaimana bisa saya ikhlas mendoakan dia sementara saya masih menyimpan kepahitan terhadapnya?

Hal itu seumpama, saya meminta seseorang melihat dasar danau di saat airnya buram bahkan menghitam. Dia tidak akan bisa melihat sampai ke dasarnya, bahkan untuk melihat setengahnya saja dia akan kepayahan.
Berdoa syafaat apalagi bagi orang yang menyakiti kita merupakan salah satu tindakan "super" yang perlu kita pelajari sehingga kita sendiri tidak hanya meminta berkat buat diri sendiri, tetapi untuk orang lain juga.

Oleh karena itu, perlu menumbuhkan keikhlasan karena pernah disakiti secara fisik ataupun mental. Sebab keikhlasan tidak akan pernah terwujud tanpa "memaafkan" dan "melepaskan" rasa marah, kecewa, dan kesedihan yang merupakan penyebab kita menyimpan kepahitan.

Memang melakukannya bukanlah perkara mudah seperti:

1. Mengakui
"Yah, aku membencinya" merupakan pengakuan yang sangat susah apalagi bagi kita yang selama hidup dengan doktrin 'tidak boleh membenci sesama'. Namun seumpama orang yang sedang sakit, dia harus mengatakan bagian mana saja yang sakit agar dokter dapat mengobatinya. Seperti itu juga, kita harus mengakui apa yang dirasakan hati untuk memperbaiki dan belajar memaafkan orang yang menyakiti kita. Karena selama kita membohongi diri sendiri, kita tidak akan pernah bisa menemukan solusi untuk mengobati perasaan atau hati kita.

2. Berdoa
Paling penting mengakui di hadapan Tuhan dan memohon pengampunannya. Mintalah pemulihan kepada Tuhan yang sanggup mengerjakan segala perkara. Ketika kita bersungguh-sungguh ingin pulih dan lepas dari pendaman kepahitan, Tuhan tidak akan tinggal diam. Dia akan memulihkan sesuai dengan waktu-Nya.

3. Tekad
Kuatkan niat kita untuk berubah dan belajar. Sebab hal yang mudah tidak perlu dipelajari, namun justru sesuatu yang sulit itulah kita perlu belajar. Belajar terus dengan membaca lembaran motivasi atau firman Tuhan, sharing dengan orang yang bisa kita percaya, dan jangan mudah digoyahkan apabila seseorang yang menyakiti kita itu mulai berulah lagi. Jangan mudah terpancing emosi menjadi salah satu tekad kita untuk merubah kualitas iman kita. Sebab, anak-anak Tuhan merupakan anak-anak penuh kasih yang dimampukan untuk berbesar hati dalam memaafkan.

Dengan tiga langkah sederhana namun tentu saja tidak mudah dilakukan, kita diharapkan untuk melepas semua kepahitan agar apapun yang kita lakukan, kita tetap berusaha hidup benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Setidaknya, dengan berusaha kita dimampukan untuk memurnikan dan menjernihkan lagi hati yang mungkin telah tercemar oleh kepahitan.

Sehingga, doa itu tidak hanya perlu kesungguhan semata tetapi juga hati yang tulus ikhlas. Untuk berdoa bagi siapapun juga tak lagi menjadi batu sandungan dan kita dimampukan.

Tidak ada yang bisa benar-benar menklaim bahwa dirinya berkenan dan hidup benar di hadapan Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Namun apabila kita berusaha melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tidak ada yang pernah sia-sia di hadapan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati
---
Lily Zhang

Berjuang dalam kesakitan, mengeluh dalam kelimpahan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)
Saat fisik sedang mengalami kesakitan yang (mungkin) meleburkan daging dan meremukkan tulang. Kemudian hati mulai merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan ketika tubuh tidak kunjung pulih. Sehingga hanya air mata yang menjadi jejak di setiap hari-harinya.

Thursday, April 17, 2014

Isi hati

"Alpukat ini yang bagus, Ma, lihat warna dan teksturnya," kata seorang gadis kepada Ibunya. Dia menyodorkan alpukat yang sudah dipegangnya ke dalam keranjang belanja buah mereka.

"Eh, tunggu," kata Ibunya mengambil dan mengocok sesaat sambil dengan seksama mendengar bunyinya. "Gak bagus ini," katanya seraya menyimpannya kembali ke tempatnya yang semula. 

"Loh?" Bingung, gadis itu memandang Ibunya.

Wednesday, April 16, 2014

Keindahan rancangan-Nya

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:21) 

Kadang-kadang kita banyak melihat pengikut Kristus berdaulat hanya Tuhan Yesus satu-satunya juru selamat, bahkan tidak jarang banyak diantaranya bersaksi, menyebarkan ayat mungkin di media sosial, ataupun sekedar memuji-muji Tuhan Yesus. Itu bukan terlalu lebay atau apapun yang sebagian dari orang-orang berpendapat. Tetapi hanya merasakan betapa besar, ajaib, dan hidup Tuhan Yesus melawat dan menyatakan kehadiran-Nya dalam hidup.
Sebab DIA sungguh ajaib dan bekerja dalam hidup kita tanpa disadari. Namun apabila kita sungguh merenung dan mengaitkan saja satu peristiwa kecil dalam hidup kita, semuanya akan terkait dan luar biasa. 

Rancangan-Nya memang bukan rancangan kita. Sejauh apapun rancangan kita yang terlihat baik di mata kita, belum tentu itu yang terbaik menurut-Nya. Bahkan seorang penulis saja harus merevisi berulang kali tulisannya untuk mendapatkan yang terbaik, bagaimana untuk hidupnya? Jika seseorang salah melangkah saja, putar baliknya akan sangat jauh jika setiap kali mengandalkan pengertian sendiri.

Tetapi tenang saja, menjadi umat pilihan-Nya sejauh apapun kita tersesat, ketika kita mau menerima kehadiran Tuhan kembali dalam hidup kita dan benar-benar memohon ampun, kita akan kembali di jalan kebenaran-Nya.

Kisah 1
Dulu, di tahun 2007 saya sering sekali mengikuti ibadah youth dan ibadah raya di GKKB jemaat purnama. Satu tahun penuh dan jarang absen karena mengikuti sahabatku. Namun, saat kami tidak lagi saling mengontak, akhirnya saya putus ke Gereja, teman yang lain mengajak pun saya tidak mau lagi. Tidak akan pernah mau lagi karena beribadah hanya karena ikut-ikutan.

Di saat paling drop, Tuhan tidak langsung mengirimkan orang lain untuk membawa saya kembali ke Gereja. Dia mengirimkan seorang sahabat di akhir tahun 2008. 

Sahabat saya itu bukan pengikut Kristus tetapi semua itu menjadi ajaib ketika di sekitar hampir akhir tahun 2011, dia datang ke Pontianak dan mengenalkan temannya kepada saya. 

Itu tidak serta merta saya langsung bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Di tahun berikutnya, kami baru mulai saling berbagi tentang banyak hal. Kadang-kadang saya sempat merasa memiliki kakak yang tidak pernah saya punya. Dia mengajari saya banyak hal, juga memberikan penghiburan.

September 2013, saat berkunjung ke tempat adik, saya mendapatkan pukulan keras. Saat itu, saya tidak berhenti berpikir dan menilik hati saya. Setiap malam saya tidak bisa tidur. Di akhir minggu kepulangan, saya mendapat ajakan untuk ke Gereja oleh teman saya ini.

Hati saya sudah mau tetapi saya takut karena dari keluarga non-Kristus. Saya menolak juga karena saya berpikir kalau pergi ke Gereja, saya pasti akan menerima Tuhan Yesus, sementara saya berpikir apa yang harus saya katakan kepada orang tua. Saya malah berusaha untuk tidak membahasnya dan menghindari topik seperti itu. Saya sedang menunggu kesiapan hati saya untuk menerima. Saya tidak ingin terpaksa dengan alasan apapun juga. Kemudian, saya mulai merencanakan penolakan bahkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa semuanya tidak bisa dipaksa kepada teman saya itu. Namun Tuhan tentu saja tidak melancarkan rencana saya yang berusaha menghindari Gereja.

Dengan semua usaha penolakan, seharusnya teman saya itu tahu kalau saya masih berkeras dengan hati saya. Namun dia tidak menyerah (bahkan setelah dibaptis dia mengakui kalau mereka mendoakan saya di menara doa mereka) sebab campur tangan Tuhan di dalamnya. Tuhan memakai dia.

Kemudian seperti mengetahui pikiran yang menganggu saya, teman saya menceritakan bahwa setiap orang memiliki posisi yang sama, saya menjadi seperti memiliki 'teman nasib' yang sama. Banyak orang yang bukan lahir dari pengikut Kristus harus menghadapi pertentangan dan cercaan saat memilih untuk mengikuti DIA. 

Dia memberikan saya buku kesaksian dan saat membaca kesaksian surga, saya menangis meraung-raung karena merasa selama ini begitu banyak dosa yang telah saya lakukan. Saat itu, saya percaya Tuhan tengah menyentuh hati keras saya. Orang sekeras kepala saya berhasil dengan mudah Tuhan lunakkan sesuai waktu yang telah ditentukan-Nya. Sungguh luar biasa.

Saat itu, Mama dinyatakan oleh dokter bahwa ada kemungkinan metatase adecorma, bukan penyakit ringan yang bisa sembuh dengan obat. Minggu pertama Oktober 2013, saya akhirnya mengikuti ibadah raya pertama, di sana terasa sekali Tuhan hadir sehingga rasanya sesak sekali dan saya menangis. 

Semenjak itu, saya menjadi rindu dengan lawatan Tuhan seperti sentuhan yang kurasakan pasca didoakan pengerja di sana. Kemudian, saya tidak serta merta menyatakan mau dipermandikan, saya masih menunda-nunda. Saya masih berpikir, "ah, entar ajah baptisnya kalau udah benar-benar kenal Kristus" itu yang berulang kali melintas di pikiran ketika teman saya itu membahas tentang lahir baru. Saya kukuh dengan apa yang saya rencanakan untuk tidak terburu-buru. Bahkan saya berpikir saya pasti dibaptis tetapi tidak sekarang. Namun dukungan dan nasehat-nasehat terus mengalir. Sebulan kemudian, berkat dukungan teman yang mengajak saya ke Gereja, saya dibaptis. 

Suatu hari, saya mulai merenungi proses yang Tuhan kehendaki dan mulai mengerti bahwa ini semua dirajut-Nya dengan indah dan tepat pada waktu-Nya saya kembali ke Gereja. Sebelumnya, satu kalipun saya tidak pernah berpikir akan kembali ke Gereja dan tengah menuliskan kisah ini di blog ini. Bahkan sempat berpikir saya mustahil menjadi Kristiani. 

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1 Korintus 2:9)

Tuhan menyediakan tempat untuk saya berpulang. Sungguh bersyukur Tuhan Yesus mau menerima orang yang tidak benar seperti saya ini. 

Kisah 2
Pergumulan yang saya alami atas penyakit Mama memang membawa berkat bagi anak-anaknya. Adik saya jadi lebih dekat dengan Tuhan dan saya segera kembali ke Gereja.

Saya masuk dalam menara doa dan mulai sering rajin mendoakan Mama dan doa syafaat lainnya. Itu pun karena rumah doa dekat dengan kantor sehingga saya bisa memakai jam istirahat siang.

Tuhan memang luar biasa. Ketika itu, Mama diharuskan kembali berkonsultasi dengan dokter onkologis setelah saya memaksa pulang bulan sebelumnya karena tidak bisa cuti kerja terlalu lama sementara dokter yang bermaksud kami temui masih tiga hari lagi. Padahal kami bermaksud bertemu dulu dengan dokter itu untuk mendapatkan gambaran pengobatan kemoterapi seperti apa yang harus dijalani oleh Mama walaupun hasilnya belum ke luar. Tetapi gagal kami temui.

Satu hal yang meneguhkan saya untuk pulang ke Pontianak (konsultasi di Malaysia) adalah saat itu hasil biopsi Mama masih harus menunggu dan untuk konsultasi tanpa hasil pun percuma. Saya tidak mungkin seminggu menunggu hasil biopsi di Malaysia atau sekedar bertemu dokter  (hanya untuk mendapatkan gambaran pengobatan, bukan kepastian) yang harus menunggu minimal tiga hari. Saya memutuskan akan kembali berkonsultasi setelah hasilnya biopsinya ke luar.

Dengan menutup telinga dari sikap protes keluarga, saya memaksa untuk pulang karena sejauh yang saya lihat, proses pemeriksaan dan konsultasi di salah satu rumah sakit swasta itu sungguh tidak baik. Dokter bekerja seolah tengah memperdagangkan kesehatan, mereka tidak banyak menjelaskan, membuat surat untuk pemeriksaan yang tidak ada gunanya.

Di Pontianak, berkali-kali saya diberitahu informasi obat dan dokter. Kemudian, saya diajari untuk mengandalkan Tuhan Yesus. Saya mulai mencoba meminta petunjuk dari Tuhan untuk obat dan dokter.

Kemudian saat berdoa di menara, teman seiman menyarankan ke dokter yang namanya sudah kudengar berulang kali. Kali itu, saya mulai menaruh perhatian dengan nama dokter itu.

Setelah hasil biopsi ke luar, saya segera mendaftarkan Mama ke perwakilan rumah sakit Malaysia dan mendapat jadwal yang diundur sekitar dua minggu lagi padahal saya sudah berkeinginan cepat-cepat mendengar diagnosa dokter. Bahkan saya harus membuat janji dulu sebelum memastikan kehadiran kami di sana dan itu pun belum dapat dipastikan apakah kami mendapatkan jadwal bertemu dokter atau tidak.

Saya mulai berpikir, saat di Malaysia, kami berharap bisa berkonsultasi dengan dokter itu walaupun hasil biopsi belum ke luar dan di sana pun kami diminta untuk menunggu tiga hari dan membuat saya memutuskan untuk pulang.
Semua hal itu membuat saya berpikir, mengapa semuanya tertunda? Semua keadaan tidak mendukung mulusnya pengobatan Mama. Bahkan beberapa teman saya yang diceritakan bahwa Mama ada kemungkinan kemoterapi berusaha memberi pandangan kalau kemoterapi tidak baik dan lebih banyak yang tidak selamat. Semua bersaksi tentang kerabat mereka sendiri.
Kemudian, saya bergumul dan akhirnya mengambil keputusan menunda dengan alasan kalau kemungkinan Mama dikemo sudah sangat minim karena divonis stadium 4, bahkan sempat dibahas jika konsultasi itu tidak menghasilkan apa-apa, buat apa menghamburkan uang?

Berdoa untuk dokter Pontianak yang disarankan, saya mencoba mendaftar. Banyak orang bilang kalau dokter ini sangat ramai dan harus mengantri sekitar seminggu, bahkan ada yang mengalami dua minggu. Puji Tuhan, mungkin ini jalan yang disediakan oleh Tuhan, Mama hanya menunggu dua hari saja. Sejak itu, meskipun belum sembuh, Mama merasa pengobatan ini sungguh lebih baik. Terakhir CA 15.3 Mama dinyatakan turun sebanyak 7 nilai. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa inilah jalan-Nya. Meskipun saya tahu turunnya tumor marker tidak berarti Mama bebas dari bahaya. Tetapi sebagai manusia, saya dan keluarga hanya melakukan bagian kami. Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya sesuai kehendak.

Sampai saat ini pun, saya percaya kesembuhan hanya datang dari-Nya dengan cara yang mungkin saya sendiri tidak menyangka. Hanya bisa mencoba bertahan dalam iman bahwa kehendak-Nya yang terbaik. 

Tuhan Yesus memberkati
---
Lily Zhang

Saturday, April 12, 2014

Memilih untuk 'cantik'

Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji, (Amsal 31:30)

Pernah terdengar peribahasa buatan anak-anak jaman sekarang "kecantikan itu relatif, tetapi jelek itu mutlak."

Nah loh? 

Benar, jaman sekarang segala hal dipandang dari rupa terlebih dahulu. Hanya saja, gadis jaman sekarang lebih beruntung karena sudah banyak sekali cara untuk menjadi cantik. Sehingga tidak dipungkiri menjadi cantik itu mutlak dan kebanggaan tersendiri. Bahkan sekarang ada istilah "uang bisa membeli segalanya" dan kecantikan pun bisa dibeli. Meskipun tidak dapat disangkal, gen "tidak cantik" tentunya tidak bisa dihapus. 

Memiliki pasangan pun, seorang gadis harus terlebih dahulu mengandalkan kecantikannya. Berapa sih persentase pria yang tidak melihat rupa untuk memiliki seorang gadis? Perbandingan sangat tipis. Kalaupun perempuan itu tidak cantik tetapi pandai merawat diri sehingga terlihat menarik, pria pun akan melirik. 

Tetapi sadar tidak sadar, seorang pria yang memilih gadis yang molek dan pandai merawat diri - dalam hal ini dengan perawatan yang tidak murah - dia pun harus mempersiapkan kantong yang cukup untuk memenuhi kebutuhan isterinya kelak. Dan lagi, seorang pria pas-pasan tidak akan mampu memiliki gadis dengan perawatan mewah seperti itu.

Tetapi sadarkah bila ada satu kecantikan yang bisa dipilih, bukan pembawaan gen, dan gratis? Yah, kecantikan berupa takut akan Tuhan. Sehingga dia menghargai setiap pemberian Tuhan dengan merawat sebagaimana saja mestinya tanpa harus melebih-lebihkan. Seorang perempuan yang memelihara hati, tingkah laku, dan perkataan yang berkenan bagi Tuhan Yesus. 

Yah, kecantikan seperti ini bisa dimiliki semua orang jika dia berniat. Hanya saja untuk menjadi cantik seperti ini tidaklah mudah seperti sewaktu seorang perempuan pergi ke salon dan hasilnya sudah kelihatan. Kecantikan ini perlu dipelihara seumur hidup dengan berkomitmen dan bertahan. Meskipun tidak kelihatan, tetapi kecantikan ini akan terasa dari hidupnya sendiri. 

Mereka boleh saja tidak cantik secara duniawi, tetapi mereka berusaha memelihara kerinduan, ketakutan, dan kebutuhan mereka akan Tuhan. Mereka akan menjadi bijak karena hikmat yang datang daripada-Nya dan bukan mengandalkan pengertiannya sendiri. Memiliki kasih yang besar terhadap suami dan anak-anaknya. Tangguh dan tabah dalam setiap kesulitan. Serta lemah lembut dalam setiap pengajarannya kepada anak-anaknya. Seseorang yang hidup dalam Tuhan akan berusaha untuk berada di jalan kebenaran. 

Tuhan Yesus memberkati
----
Lily Zhang