“Mama!”
jeritmu ketika langkah Mama semakin menjauh sementara tangan kokoh Papa
memaksamu untuk tetap berada di sampingnya. Lonceng gereja maupun kidung natal
tidak memeriahkan malammu. Kamu menangis tersedu-sedu meskipun bayangan Mamamu
telah hilang ditelan kegelapan. Bahkan Papamu tidak peduli ketika kamu tidak
juga ingin beranjak dari depan pagar.
“Ma ... ma,” mulutmu tak berhenti bergumam dan
matamu tak juga berhenti memandang di kegelapan malam. Malam sudah mulai membuatmu
mengigil, namun tidak membuatmu enggan melangkah sedikit pun untuk
menghangatkan diri di dalam rumah berdua bersama Papa.